TikTok Harus Dijual Dalam 180 Hari, Harganya Ribuan Triliun

Jakarta, Indonesia – ByteDance dipaksa untuk menjual TikTok ke perusahaan Amerika Serikat dalam jangka waktu 180 hari, sebagaimana disyaratkan oleh Rancangan Undang-Undang yang disahkan DPR AS baru-baru ini. Jika tidak, TikTok terancam akan diblokir dari 170 juta penggunanya di AS.

Menurut para ahli, ini akan menjadi salah satu transaksi paling sulit dan paling rumit dalam sejarah. Hal ini karena transaksi akan menimbulkan tantangan finansial, teknis, dan geopolitik yang menurut para ahli dapat membuat penjualan menjadi tidak praktis dan meningkatkan kemungkinan terjadinya kerugian.

Aturan yang menurut Presiden Biden akan ia tandatangani, diajukan ke DPR tetapi diramal bakal sedikit tersendat di Senat dan harus menghadapi tantangan konstitusional di pengadilan.

Namun pakar keuangan mengatakan proses legislatif kompleks yang menargetkan aplikasi video, yang dimiliki oleh raksasa internet ByteDance yang berbasis di China mungkin akan lebih mudah dibandingkan dengan transaksi lainnya.

Penjualan tersebut akan melepaskan TikTok, yang diperkirakan bernilai US$ 150 miliar (Rp 2.360 triliun) dari induknya, ByteDance. Namun, potensi penjualan TikTok juga menghadapi tantangan hukum dan perlawanan dari China yang telah berjanji untuk memblokir kesepakatan apa pun dengan AS.

Meskipun para pendukung RUU berargumentasi bahwa tujuan regulasi tersebut bukan memblokir TikTok, realitasnya ada kemungkinan besar TikTok gagal memenuhi tenggat waktu divestasi selama enam bulan.

“Seperti yang bisa kami katakan dalam bisnis, jumlah hambatan dalam transaksi ini sangat ekstrem,” kata mantan mitra merger dan akuisisi di firma hukum Shearman & Sterling Lee Edwards, dikutip dari Washington Post, Senin (18/3/2024).

“Untuk menyelesaikan kesepakatan sebesar dan kompleksitas ini hanya dalam waktu setengah tahun, termasuk meloloskan tinjauan peraturan apa pun yang mungkin diperlukan di negara-negara di seluruh dunia, akan menjadi hal yang sangat cepat dan agresif,” tambahnya.

Setiap pembeli perusahaan, kata dia, perlu mencurahkan sumber daya manajemen dan perencanaan strategis dalam jumlah besar dengan risiko kegagalan yang tinggi.

Harga TikTok Rp 1.574 triliun
Menurut perkiraan seorang analis keuangan, TikTok mungkin akan terjual dengan harga melebihi US$ 100 miliar (Rp 1.574 triliun). Angka tersebut termasuk rendah, sebab TikTok menghasilkan penjualan sebesar US$ 16 miliar (Rp 251 triliun) di AS tahun lalu. Financial Times melaporkan, angka pendapatan itu seharusnya bisa memberi nilai bagi perusahaan hingga $150 miliar.

Harga tersebut hanya akan dapat dipenuhi oleh sedikit pembeli dan menetapkan tonggak sejarah baru bagi akuisisi perusahaan teknologi raksasa. Namun pembelian oleh raksasa teknologi saingannya mungkin akan menghadapi pengawasan antimonopoli yang ketat di Amerika Serikat dan negara-negara di seluruh dunia yang akan memperlambat proses tersebut, atau bahkan dapat menghentikannya.

“Daftar penawar di sini sangat sedikit,” kata David Locala mantan kepala merger dan akuisisi teknologi global di Citi, bank investasi multinasional Amerika.

“Regulator AS mungkin harus mengambil tindakan, apakah mereka ingin kepemilikan TikTok di AS, atau apakah mereka ingin satu atau lebih perusahaan teknologi besar menjadi lebih besar?,” jelasnya lebih lanjut.

Dengan harga pembelian sebesar US$ 100 miliar, TikTok akan menjadi salah satu kesepakatan merger dan akuisisi terbesar dalam sejarah dengan kompleksitas dan keterbatasan waktu.

Sebagai contoh, merger AOL dengan Time Warner pada tahun 2000 senilai US$ 182 miliar (Rp 2.864 triliun) saja membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk diselesaikan.

Selain itu, pembelian Twitter oleh Elon Musk senilai US$ 44 miliar (Rp 692 triliun) pada tahun 2022 membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk diselesaikan – dan penjualan tersebut didukung penuh oleh dewan komisaris Twitter.

Namun demikian, melihat potensi dari TikTok banyak pihak yang siap untuk mengakuisisi aplikasi populer itu.

Mantan Menteri Keuangan Steven Mnuchin, mengatakan kepada en-us-norton.com Internasional pekan lalu bahwa dia sedang mengumpulkan sekelompok investor yang mau untuk membeli TikTok.

Sementara Bobby Kotick, mantan kepala raksasa video game Activision Blizzard, dan Kevin O’Leary, investor Kanada dari acara TV “Shark Tank,” keduanya telah menyatakan minatnya pada kesepakatan TikTok. Namun mereka mungkin tidak mempunyai uang untuk melakukan pengambilalihan secara serius, dan mengumpulkan dana mereka sebagai bagian dari konsorsium investasi akan menimbulkan masalah baru lagi.

“Dengan konsorsium, Anda tidak akan pernah tahu apakah seseorang benar-benar terlibat atau tidak sampai hal tersebut berakhir,” kata Locala. “Semakin banyak pihak yang Anda perkenalkan, semakin sulit untuk mencapai kemajuan.” terangnya.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *